Perawatan Thalassemia
Tipe dan tingkat keparahan thalassemia akan menentukan perawatan yang dapat dilakukan. Biasanya penderita thalassemia minor hanya mengalami gejala ringan dan tidak memerlukan perawatan khusus, namun transfusi darah biasanya diperlukan untuk membantu mengatasi komplikasi thalassemia, usai melahirkan, atau setelah melakukan operasi.
Sebagian besar penderita thalassemia
beta intermedia tidak memerlukan transfusi darah. Sedangkan penderita beta
thalassemia mayor umumnya memerlukan transfusi darah secara rutin (biasanya
sebulan sekali atau kurang) untuk mendapatkan hemoglobin yang diperlukan oleh
tubuh. Frekuensi akan ditentukan sesuai dengan kondisi thalassemia yang dialami
pasien.
Perawatan untuk mengatasi zat besi
berlebih yang ada di dalam darah bisa dilakukan dengan terapi khelasi. Hal ini
bertujuan untuk mencegah kerusakan organ tubuh secara meluas (misalnya ke hati,
kelenjar hormon tubuh, atau jantung) akibat menumpuknya zat besi di dalam
darah.
Biasanya anak-anak yang telah menerima transfusi darah sekitar 10 kali
memerlukan terapi khelasi. Frekuensi terapi khelasi akan dinilai secara rutin
dan mungkin bisa berubah, namun biasanya perawatan ini berlangsung seumur
hidup. Saat ini ada tiga agen khelasi atau obat yang digunakan dalam terapi
khelasi, yaitu deferiprone, deferasirox, dan desferrioxamine.
Tes untuk mengukur kadar zat besi
dapat dilakukan dengan tes darah, biopsi organ hati, ekokradiografi,
elektrokardiogram dan MRI scan. Untuk memonitor apakah terapi khelasi
yang dilakukan efektif, pemeriksaan kadar zat besi di dalam darah dilakukan
secara rutin.
Transplantasi
Sumsum Tulang
Pengobatan untuk menyembuhkan
thalassemia kemungkinan bisa terjadi dengan melakukan transplantasi sumsum
tulang. Sumsum tulang yang didonasikan dari donor yang terbukti cocok dan sehat
digunakan untuk menggantikan sumsum tulang yang terkena thalassemia dan berguna
untuk memproduksi sel darah yang sehat.
Sayangnya transplantasi sumsum
tulang tidak selalu cocok dan bermanfaat bagi tiap penderita. Seseorang harus
mencari pendonor yang tepat, dan risiko dari prosedur ini pun cukup serius.
Itulah sebabnya pengobatan thalassemia dengan transplantasi sumsum tulang hanya
dilakukan jika kondisi yang diderita sudah parah dan harus didiskusikan dengan
keluarga. Selain itu, ada risiko dimana sumsum tulang pendonor tidak cocok
dengan tubuh penderita thalassemia yang menerimanya sehingga menyebabkan reaksi
seperti berikut:
- Ruam yang kemudian melepuh
- Sakit kuning
- Sakit perut, diare, dan darah pada tinja
- Demam
- Napas pendek hingga sesak
- Anemia
- Pembekuan darah hingga infeksi
Anak-anak yang berusia di bawah 16
tahun memiliki peluang keberhasilan dan bertahan hidup lebih besar karena
kerusakan organ belum terlalu parah. Selain itu, anak-anak yang menerima donor
sumsum tulang dari saudara kandung yang memiliki tipe jaringan gen yang sama
juga memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar dalam melakukan
transplantasi sumsum tulang.
Sangat sulit untuk menemukan tipe
sumsum tulang yang cocok dari orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan
pasien.
Faktor-faktor risiko yang menentukan
tingkat keberhasilan transplantasi sumsum tulang adalah kerusakan hati yang
parah, kadar zat besi tubuh yang tinggi, dan besarnya organ hati. Berikut ini
adalah kemungkinan keberhasilan pada anak-anak usia di bawah 16 tahun yang
mendapatkan donor sumsum tulang yang cocok:
- Jika dia tidak memiliki faktor risiko yang disebutkan di atas, maka peluang keberhasilan adalah 90 persen dan peluang bertahan hidup adalah 95 persen.
- Jika dia memiliki kurang dari tiga faktor risiko, maka peluang keberhasilan adalah lebih dari 80 persen dan peluang bertahan hidup adalah lebih dari 85 persen.
- Jika dia memiliki tiga faktor risiko, maka peluang keberhasilan adalah lebih dari 55 persen dan peluang bertahan hidupadalah kurang dari 80 persen.
Selain cara-cara pengobatan di atas,
terdapat juga sejumlah pengobatan yang dapat dilakukan untuk meredakan penyakit
thalassemia agar tidak memperparah kondisi pasien, seperti pengobatan hormon
untuk anak-anak dengan pubertas yang lambat atau pasien dengan masalah kelenjar
tiroid, vaksinasi dan antibiotik untuk mengobati infeksi, pengobatan untuk
osteoporosis, hingga operasi batu empedu.
Sumber : http://www.alodokter.com

Post a Comment